Langsung ke konten utama

Postingan

Tidak Ada Mawar Ketiga #prolog

#prolog soal rasa aku kamu diantara kita yang pernah menyatu  Dan sekarang membuat jarak antara jurang  Tak memiliki titik temu dan dikelilingi tembok berbata merah  Kita pernah menjadi dua  Sebelum akhirnya melepaskan diri, m enjadi seorang kembali.  Lucu cinta itu.  Aku terombang ambing dibuatnya, Menjadikan aku bergantung pada mu,  Dan melepaskan aku dari mu  Tanpa pernah mengajari aku bagaimana hidup tanpamu.  Aku pun terjebak diruang kenangan,  Sedang kamu selayaknya sedang bahagia disana Aku pun terjebak diruang kemanjaan,  se dang kamu sedang memandirikan diri untuk memanjakan yang lain.  Aku terpuruk. Jatuh. Hilang.  Dan kau pun tak ada.  Aku mawar pertama dan kedua.  Tak ada ketiga, bukan aku, bukan kita.  Entah siapa. Mungkin dia.  Aku mawar pertama dan kedua.  Menyimpan paksa kenangan hingga mengering, dan utuh.  Kau pun memberi mawar ketiga segar itu bukan p...

Kisah Setelahnya

Ketika masa putih abu - abuku habis.  Kisah cintaku juga habis.  K etika masuk awal perkuliahan Kisah baru pun juga menghampiri. Seandainya aja dahulu aku tau,  bahwa cintaku hanya indah sesaat di putih abu - abu.  Memang benar adanya, berakhir mengabu.  Ah, sungguh nahas sekali rupanya.  Aku pun tak tahu mengapa begitu yakin,  bahwa yang sesaat itu akan menjadi selamanya.  Aku jujur, cinta itu emang indah.  B ergantung pada siapa kamu sedang mencinta.  Tapi jangan mencinta, kalau tak siap buat patah hati.  Karena dari pertemuan akan ada perpisahan.  Entah berpisah secara tragis atau baik baik saja,  atau mungkin bisa menjadi akhir yang berlanjut bahagia.  Semua bergantung pada orang yang kita cintai dan Tuhan.  Ya, kini aku sedang tidak siap untuk patah hati.  Patah hati yang lalu terlalu berat.  Hingga mau bangun kembali pasti jatuh lagi.  Sudah, lebih baik ku bereskan dahu...

Traumatis

Cinta menjadikan ku takut Bukan bahagia lagi, sudah sirna.  Cinta bukan lagi menghangatkan ku Dingin, tak berdekatan. Entah aku tak tahu jua. Mengapa se-tragis itu?  Tragedi menangis sedu  Menghunjani sisi senja nan syahdu Ah bodohnya! Untuk apa lagi ku tangisi Tiada guna lagi untuknya Hanya kebodohan saja meliputiku.